right_side

Empati Demi Surgawi

Satu Miliar Cinta

My Book.

Pengikut

My Book Cover

My Book Cover

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

My Book

Cursor

One Piece Going Merry

Widget


Kamis, 08 Mei 2014

Jika

Jika dikatakan aku rindu, mungkin memang seperti itulah yang kurasakan saat ini. Padahal aku sendiri tidak berani menamakan gelisah yang aku rasakan ini adalah rindu. Kau tahu kenapa? Karena..., ada sesak yang akhirnya kurasakan juga. Begitupun  sakit dan hampa, telah ikut serta dalam pesta penderitaan ini. Bagaimana tidak dikatakan penderitaan jika perasaan telah menjadi sesuatu yang tak lebih jelas dari kelabu. Tepatkah jika tetap kunamakan perasaan ini sebagai rindu?
Kesendirian bisa jadi telah menjadi dasar atas semua itu. Namun tak ada yang bisa menghindar dari sebuah kenyataan. Apalagi untuk diri yang lemah ini, hanya bisa mengais-ngais sisa harapan yang mungkin tertinggal di dasar hatinya atau mungkin malah sudah ditinggal jauh olehnya dan tidak ditengok lagi.
Ahh, harapan..., yang semu, yang tak tentu. Mungkinkah kau mengetahuinya?
sumber gambar : http://ermaynee.wordpress.com/tag/rindu/

Jumat, 11 April 2014

Catatan Kecil-Sholat (tak lagi) sebagai pembagi waktu.


Kejadiannya sore, menjelang maghrib. Saya sendiri sudah ketar-ketir untuk bersiap-siap menjalankan ibadah wajib itu. Sampai tiba-tiba ada dua anak smp -perempuan- yang minta dibantu untuk mengerjakan tugas. Seingat saya, kedua anak itu sudah bermain internet sekita dua jam. Menurut pengakuannya, mereka memang mengerjakan tugas namun komputer mati dan tugas yang dikerjakan dengan susah payah itu terpaksa terhapus.
Sebelum itu pun saya masih ingat ada Ibu-ibu mencari anaknya yang sedang ngenet di tempat saya bekerja. Namun karena si anak bilangnya masih mengerjakan tugas makanya ibu itu kembali pulang dan membiarkan anaknya terus mengerjakan tugas tersebut. Tapi... beginilah akhirnya

Saya mengerjakan tugas mereka dipandu dengan instruksi dari mereka. Ternyata tugasnya memang cukup banyak sehingga memakan waktu yang cukup banyak juga. Maghrib sudah lewat. Saya kira tugas selesai masih akan ada waktu untuk mengerjakan kewajiban saya sebagai muslim. Selama mengerjakan tugas itu pikiran saya sendiri resah, karenanya sebisa mungkin saya bekerja cepat supaya cepat selesai dan bisa sholat. Anehnya kedua anak tersebut ternyata santai saja, tidak memperlihatkan kalau mereka sedang terburu-buru karena waktu maghrib sudah mepet (padahal kelihatannya anak baik-baik lho...). Sepuluh menit berlalu, baru setengah yang selesai. Bukan karena banyaknya tapi karena kedua anak itu terlalu lama mikir, kebanyakan ragu. Dan ketika sudah 70% tugas itu selesai ada seorang lelaki paruh baya dengan kopiah hitam, baju kokoh putih dan memakai sarung.
"Sudah selesai belum tugasnya?" tanya lelaki itu pada kedua anak SMP di sebelah saya.
Jika dilihat secara sekilas mungkin tidak ada yang aneh. Namun saya sendiri terus terang merasa terkejut, pasalnya pertanyaan pertama dari lelaki berkopiah, berbaju kokoh dan memakai sarung itu bukan apakah si anak sudah sholat maghrib?
Nah, dari kesimpulan sekecil ini saja bisa menjurus pada pertanyaan lain yang mengarah pada bapaknya si anak, mungkinkah bapak yang 'agamis' itu tidak mengajarkan nilai-nilai islami pada anaknya? Seberapa pedulikah bapak itu -dan mungkin juga seluruh anggota keluarganya- pada nilai-nilai/syariat-syariat islam (pada ceita di atas, sholat)?
Pada akhirnya saya pun jadi bertanya-tanya, seperti itukah anak-anak jaman sekarang? Hidup dalam keluarga berkecukupan dengan orang tua yang mapan namun tidak terlalu mempedulikan waktu untuk sholat -saya merasa sholat sebagai pembagi waktu saya untuk bisa disiplin-.
Ini kenyataan.

Jumat, 21 Maret 2014

Menjadi Pribadi Yang Tangguh

Begini ceritanya, suatu saat ketika saya silaturahim ke rumah teman kenalan, bisa dibilang sohib juga. Saya dengan teman saya ini sudah lama tidak ketemu. Lantas ketika saya dijemput sama sohib dengan motor, saya nurut tuh mau di bawa ke mana, secara saya belum tahu rumah baru dia di mana. Sampai beberapa menit karena memang siang itu lagi panas-panasnya, dibelokkanlah motor yang kami duduki dengan dia ke sebuah café atau warung yang khusus menyediakan minuman.
 “Kita minum dulu yuk!” ajak dia sambil turun. Saya ngikut saja. Toh yang bayar pasti dia ini.
Singkat cerita tenggorokan kami udah dialiri air segar dan dahaga pun hilang seketika. Dia pun membayar minuman kami. Pas saya lihat dia menyodorkan uang 50 ribuan untuk membayar kedua minuman kami tadi. Nahh bagi saya yang tidak biasa mengeluarkan uang 50 hanya untuk sebuah minuman kan kerasa agak berat. Bukan apa-apanya tapi kalau cuma buat ngilangin dahaga kan bisa tuh beli air mineral di warung pinggir jalan seharga 3 ribu, paling mahal mungkin 5 ribu itupun kalau tukang warungnya nakal.
Abis itu udah saya lewatin tidak dipikirin lagi. Akhirnya kami berangkat lagi, ternyata tidak sampai dua menit kami sampai di rumah sohib saya ini. Saya dibikin geleng-geleng nih. Kok hanya karena haus saja dia mudah mengeluarkan uang padahal jarak ke rumahnya tinggal beberapa meter lagi. Mungkin mentang-mentang karirnya udah matang kali.
Sampai ketika kami ngobrol, ditengah-tengah pembicaraan dia mengeluh karena cicilan rumahnya belum kelar malah katanya nunggak.
Oke, sampai di sini kita bisa melihat betapa mudah terlenanya seseorang dengan ‘kecukupan’. Saya juga berpikir bahwa yang membuat seseorang merasa cukup atau tidak adalah gaya hidupnya. Mari kita bayangkan jika sohib saya ini merubah gaya hidupnya. Dia bisa membelokkan uang yang biasa ia gunakan dengan sia-sia seperti cerita di atas untuk menabung. Kenapa saya bilang sia-sia? karena toh sebenarnya masih ada banyak alternative untuk mengatasi rasa hausnya itu. Bisa beli air mineral seperti yang saya katakana di atas atau yang lebih murah lagi adalah tunggu sampai tiba di rumah. Kan kalau sudah sampai rumah bisa minum sepuasnya bahkan kalau galonnya mau diminum sekalian juga tidak ada yang melarang kan?
Hal seperti ini bukan berarti irit atau pelit. Tapi melatih diri untuk tidak mudah menyerah, untuk tidak cengeng, untuk menekan gengsinya –bisa jadi ia memilih mampir ke café karena gengsi-.
Dan memang sebenarnya kalau kita tidak malas, banyak kok alternative untuk melatih diri kita supaya menjadi pribadi yang tangguh dan tidak cengeng.

Popular Posts