Menggurat Mimpi
mimpiku
ternyata hanya bertanggal merah
di pojok kalender
besok pun
akan di sobek
untuk bungkus kerupuk sambal
dan di sana
ku dengar ada yang menertawaiku
tahun
pun berganti
Senin, 21 Maret 2011
Jumat, 11 Maret 2011
Senin, 15 November 2010
remah-remah air mata dari perjalanan kita
aku jauh diterpa sepi
hatiku berkarat tak juga temukanmu
terhuyung-huyung dalam gelombang tersendiri
hanya hampa memenuhi hati, suasana, rasa, dan imaji
seperti sebuah pulau yang tak berpenghuni
tak ada kehidupan
hanya misteri menyelimuti
ku bayangkan kau telusuri jalan yang menuju rumahku
sendiri juga
berjalan kaki dan mengumpulkan remah-remah air mata
untuk kau hadiahkan kepadaku saat pertama kali kita bertemu
kau hanya tersenyum tiap kali membayangkan
saat-saat kau hadiahkan remah-remah air mata itu padaku
sebagai hadiah terindah yang kau temukan dalam perjalananmu,
kakimu yang tak beralas
semakin lecet tergores batu cadas yang bertaburan
di jalan menuju rumahku
hanya saja keyakinanmu tetap menegarkan hatimu untuk tetap hidup
dan bertemu denganku
terus
sampai malaikat mengikat tali waktu kita
yang terpisah lalu bertemu dan bersatu
dan kita menemukan hadiah yang sama antara kau dan aku
tapi tetap saling memberikan:remah-remah air mata dari perjalanan kita
dengan tersenyum.
18:13:09
14-11-2010

hatiku berkarat tak juga temukanmu
terhuyung-huyung dalam gelombang tersendiri
hanya hampa memenuhi hati, suasana, rasa, dan imaji
seperti sebuah pulau yang tak berpenghuni
tak ada kehidupan
hanya misteri menyelimuti
ku bayangkan kau telusuri jalan yang menuju rumahku
sendiri juga
berjalan kaki dan mengumpulkan remah-remah air mata
untuk kau hadiahkan kepadaku saat pertama kali kita bertemu
kau hanya tersenyum tiap kali membayangkan
saat-saat kau hadiahkan remah-remah air mata itu padaku
sebagai hadiah terindah yang kau temukan dalam perjalananmu,
kakimu yang tak beralas
semakin lecet tergores batu cadas yang bertaburan
di jalan menuju rumahku
hanya saja keyakinanmu tetap menegarkan hatimu untuk tetap hidup
dan bertemu denganku
terus
sampai malaikat mengikat tali waktu kita
yang terpisah lalu bertemu dan bersatu
dan kita menemukan hadiah yang sama antara kau dan aku
tapi tetap saling memberikan:remah-remah air mata dari perjalanan kita
dengan tersenyum.
18:13:09
14-11-2010
Langganan:
Postingan (Atom)
Popular Posts
-
Kumpulan cerpen di dalam buku ini tercipta karena satu bentuk perhatian istimewa dari Bunda Asih Wardhani atas keinginan seseorang untuk...
-
Jika dikatakan aku rindu, mungkin memang seperti itulah yang kurasakan saat ini. Padahal aku sendiri tidak berani menamakan gelisah yang ...
-
Ada yang pernah berpikiran untuk menggunakan kata sandi yang unik di akun medsosnya? Aku sih yes. Dulu sewaktu pertama membuat akun fac...
-
Sore yang riuh pada sebuah kota yang menjadi barometer kesuksesan seperti utara untuk mata angin. Jakarta. Sekumpulan orang lebih dar...
-
Ada gemuruh yang kembali dan memang masih menyeruak ruang batinnya. Kedatangan Hilman ba’da dzuhur tadi kembali menguak rasa pedih yang ...
-
Menggurat Mimpi mimpiku ternyata hanya bertanggal merah di pojok kalender besok pun akan di sobek untuk bungkus kerupuk sambal da...
-
Mungkin aku bukan manusia yang sadar. Ya, sadar. Karena manusia sadar adalah manusia yang tak perlu berpikir dengan susah payah pun, otakny...
-
Pada sebuah perjalanan yang bernama hidup, tentunya dengan rentang waktu yang dirasa panjang -meskipun ungkapan bahwa ‘hidup sekedar mamp...
-
Nasib memang tidak bisa kita pilih, sodara. Kita ingin hidupnya sederhana saja, yang penting sehat semua. Eh ladalah, tiba-tiba kok keb...
-
Kacau ambruk membludaki pikiranku remuk kian mendengungkan nyanyian rusaknya tanpa searah terus berontak memusingkan tumpukan bosan ...



